MALANG, PACMANNEWS.COM – Gayatri Rajapatni merupakan salah satu tokoh kunci di balik pemerintahan Kerajaan Majapahit. Sebagai ibu dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi, perannya dalam membentuk kebijakan dan masa depan kerajaan sangat besar, meski dilakukan dari balik layar dan tak tampil di muka publik.
Setelah menjadi bhiksuni, Gayatri tetap mengikuti perkembangan politik Majapahit. Dia sering memberi nasihat kepada sang putri dan Mahapatih Gajah Mada, walau tak lagi berkuasa secara langsung. Namun, di usia 76 tahun, dia mulai menyadari kondisi kesehatannya terus menurun.
Kekhawatiran Gayatri: Gajah Mada dan Masa Depan Majapahit
Gayatri menaruh perhatian khusus pada watak Gajah Mada. Baginya, meski Mahapatih itu dikenal cakap dan patriotik, dia juga keras kepala dan agresif. Bahkan dia khawatir sifat tersebut bisa berpengaruh buruk terhadap cucunya, Hayam Wuruk, sang calon raja muda.
Dia mencurahkan kekhawatirannya kepada Tribhuwana Tunggadewi, yang mengakui kepribadian Gajah Mada memang penuh kontras.
“Seperti yang kita sama-sama ketahui. Gajah Mada luar biasa cakap, pragmatis, dan patriotik, namun dia pun cenderung tak sabaran, keras kepala, dan agresif…” ujar Tribhuwana pada ibunya dikutip dari buku karya Earl Drake 'Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaannya Majapahit', Senin (23/6/2025).
Tribhuwana menjelaskan bahwa selama ini dia dan Gajah Mada mampu saling melengkapi dalam memimpin negeri.
Dia juga menegaskan tetap memiliki otoritas spiritual dan legitimasi kerajaan yang mengimbangi kekuasaan sang Mahapatih.
Gayatri menyadari bahwa masa kepemimpinannya sudah berakhir dan Hayam Wuruk akan segera menggantikan Tribhuwana.
Dia menyarankan dibentuknya dewan penasihat khusus serta dewan keluarga yang berisi Tribhuwana, Rajadewi Maharajasa dan para suaminya.
Tujuannya agar Hayam Wuruk tidak sendirian dalam menghadapi kompleksitas pemerintahan saat masih sangat muda. Lebih jauh, Gayatri bahkan mengusulkan agar Gajah Mada pensiun dini saat Hayam Wuruk genap berusia 21 tahun.
Dia juga meminta Mahapatih legendaris itu menyiapkan kader pengganti dalam 5 tahun ke depan.
Respons Gajah Mada: Menolak Halus, Namun Tegas
Sayangnya, usulan Gayatri tidak disambut baik oleh Gajah Mada. Meski tak menunjukkan penolakan secara terbuka karena hormat pada mantan ratu, dia tetap menyatakan komitmennya untuk terus menjabat.
Gajah Mada menyatakan bahwa dia hanya akan mundur jika kekuatannya tak lagi berguna bagi imperium Majapahit.
Hal ini menimbulkan kekecewaan tersendiri bagi Gayatri, yang merasa Mahapatih itu terlalu lekat pada kekuasaan.
Dari respons tersebut, Gayatri menyimpulkan Gajah Mada tampaknya ingin terus berkuasa dan berpengaruh besar terhadap sang raja muda. Sebuah potensi yang membuat Gayatri khawatir akan terjadinya ketidakseimbangan kekuasaan di masa depan Majapahit.