JAKARTA, PACMANNEWS.COM - Viral di media sosial pembahasan terkait alat CAPD yang umumnya dipakai penderita gagal ginjal. Banyak publik penasaran dengan alat medis tersebut.
Di X, ramai netizen membahas soal alat CAPD atau Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis. Alat ini dipasang di tubuh seseorang dan ditempatkan di perut.
Ya, karena alat ini terpasang di perut, penampakan seseorang dengan alat CAPD biasanya terlihat berbeda dari orang kebanyakan. Ada semacam benjolan aneh di perut.
Terlepas dari itu, orang dengan masalah gagal ginjal akan cukup terbantu jika menggunakan alat CAPD. Sebab, CAPD dapat menggantikan fungsi ginjal.
Perlu dipahami bahwa orang yang sehat memiliki ginjal yang berfungsi menyaring dan membuang produk limbah dan cairan berlebih dari darah. Namun sayangnya, orang dengan penyakit gagal ginjal, proses penyaringan dan pembuangan limbah tidak berjalan dengan baik.
Alat CAPD dipakai untuk menggantikan fungsi ginjal dengan menggunakan membran yang menutupi organ dalam pasien (peritoneum).
Menurut laman kesehatan Kidney Research UK, peritoneum adalah penyaring alami dengan pasokan pembuluh darah kecil (kapiler) yang melimpah, yang melapisi ruang dalam tubuh yang disebut rongga peritoneum atau perut.
"Selama dialisis peritoneum, antara 1 hingga 3 liter cairan dimasukkan ke dalam ruang tersebut melalui kateter yang dipasang di perut," ujar laporan tersebut, dikutip Senin (23/6/2025).
Cairan yang dikenal dengan dialisat kemudian berada di dalam tabung CAPD selama beberapa jam, sementara produk limbah berpindah dari kapiler ke dalam cairan. Kemudian cairan itu dialirkan ke kantong kosong dan dibuang.
"Proses penambahan cairan baru dan pembuangan cairan bekas disebut 'sesi' atau 'pertukaran' dialisis. Proses ini biasanya dilakukan 4 kali dalam sehari, setiap hari, dan setiap sesi berlangsung sekitar 40 menit," papar laporan tersebut.
Pemasangan alat CAPD di perut penderita gagal ginjal dilakukan oleh dokter, termasuk proses memasukkan kateter ke dalam perut, tepat berada di bawah pusar.
Prosedur ini umumnya dilakukan dengan anestesi lokal atau umum, dan pasien mungkin diminta untuk tinggal di rumah sakit 24-48 jam setelahnya.
Sekitar seminggu hingga 10 hari kemudian, seorang perawat akan melepas jahitan dan pasien dapat memulai CAPD segera setelahnya.
Dijelaskan di sana, kebanyakan pasien gagal ginjal dengan CAPD mengalami situasi 'denial' atau menolak adanya benda asing yang menempel di tubuh. Hal itu sangat wajar.
Keluarga dan dokter akan membantu penderita melewati proses tersebut hingga akhirnya pasien berdamai dan merasa nyaman dengan CAPD. "Jika diperlukan, dokter akan menyarankan penderita mendapat konseling untuk memastikan kesejahteraan mental," ungkap laporan tersebut.
Jadi, itu dia alasan kenapa seseorang pakai alat CAPD di perutnya. Prosedur medis ini memungkinkan pasien gagal ginjal memiliki hidup yang lebih baik dan tetap bisa beraktivitas.