Iran Matikan Jalur Minyak Dunia, Bitcoin Anjlok Seketika

23 Jun 2025 | Penulis: tinajournal

Iran Matikan Jalur Minyak Dunia, Bitcoin Anjlok Seketika

Bitcoin (BTC) tergelincir ke bawah US$ 99.000 pada Minggu malam setelah Iran mengumumkan rencana untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia. Langkah ini menyusul serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran.

Dampaknya pun langsung terasa. Aset seperti Ethereum ambruk 10 persen ke US$ 2.180, sementara XRP merosot hingga 8 persen ke US$ 1,93. Volume perdagangan melonjak tajam, pasar bergejolak dan ketidakpastian membayangi arah kripto ke depan.

Untuk diketahui, selat Hormuz yang memisahkan Iran dan Oman, menjadi jalur bagi sekitar 25 persen ekspor minyak global. Parlemen Iran mendukung proposal untuk memblokir selat tersebut sebagai respon atas serangan militer Amerika.

Meskipun keputusan akhir bukan di tangan parlemen, melainkan di bawah kendali militer dan pasukan keamanan Iran, ancamannya saja sudah cukup mengguncang pasar global. Firma energi ClearView bahkan memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak jauh di atas penutupan hari Jumat di US$ 77.01 per barel jika tidak ada langkah diplomatik dari Amerika dan sekutunya.

Melansir dari cryptopolitan.com, pengumuman penutupan Hormuz datang setelah Amerika menggempur beberapa situs nuklir Iran. Ini merupakan salah satu langkah terkeras dalam konflik panjang Iran-Israel. Jika ancaman ini benar-benar dieksekusi, maka ini akan menjadi pertama kali konflik tersebut secara langsung mengganggu aliran minyak dunia.

Pasar kripto pun terpukul keras. Dalam 24 jam terakhir, volume perdagangan Bitcoin melonjak ke US$ 47,7 miliar, menandakan kepanikan pasar. BTC kini turun 6,3 persen dalam sepekan, dengan kapitalisasi pasar menyusut ke US$ 1,96 triliun.

Ethereum, yang memang sudah melemah, kini merosot 14,3 persen dalam tujuh hari terakhir dengan volume perdagangan harian sebesar US$ 29,5 miliar. Sementara itu XRP juga terbebani ketegangan geopolitik dan persoalan regulasi di Amerika, akhirnya jatuh 10,7 persen dalam sepekan dengan kapitalisasi pasar US$ 114 miliar.

Solana pun juga tak luput, dengan penurunan 6,4 persen ke US$ 128,65, dengan total penurunan mingguan mendekati 15 persen. Di sisi lain, BNB jatuh 3,9 persen ke US$ 608. Hanya Tether (USDT) yang bertahan di harga US$ 1,00 dengan volume perdagangan harian lebih dari US$ 76 miliar.

Meskipun belum ada aksi nyata untuk menutup Hormuz, para analis tidak meremehkan potensi eskalasi. Eurasia Group memperkirakan Iran tidak akan menutup selat sepenuhnya, tetapi mungkin meningkatkan ‘gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker’ dalam beberapa hari ke depan. Itu saja sudah cukup untuk menakut-nakuti pasar minyak, yang kini langsung berdampak ke kripto.

Mendapat kabar ini, pemerintah Amerika merespon dengan keras. Meskipun parlemen Iran hanya menyuarakan dukungan, keputusan untuk menutup Hormuz ada di tangan Garda Revolusi Iran. Hingga kini, mereka belum bertindak. Namun, hanya dengan ancaman saja, ketegangan antara Teheran dan Washington sudah meningkat drastis.

Gregory Brew dari Eurasia Group mengatakan bahwa menutup selat Hormuz akan dianggap sebagai ‘deklarasi perang’ terhadap negara-negara Teluk dan Amerika. Ia juga menambahkan, Iran yang ekonominya sudah terpukul kemungkinan besar tidak akan mengambil langkah sebesar itu, setidaknya untuk saat ini.

Kendati demikian, kehadiran militer Amerika di wilayah Teluk semakin intensif. Jika Iran bergerak, konflik bersenjata bisa saja terjadi. Bagi investor kripto, ini merupakan kabar buruk. Selama jalur disribusi minyak terancam, pasar tidak akan tenang. Kini, pasar kripto tak lagi terisolasi, dan terhubung langsung dengan arus energi dunia.

Bahkan, Wakil Presiden Amerika JD Vance menyampaikan bahwa seluruh ekonomi Iran bergantung pada selat Hormuz. Menurutnya, jika ingin menghancurkan ekonomi negara sendiri dan menyebabkan kekacauan global, itu pilihan dari Iran sendiri.


Komentar