JAKARTA, PACMANNEWS.COM - Anggota Komisi I DPR Amelia Anggraini menilai, sikap Presiden Prabowo Subianto yang memilih hadir di Forum Ekonomi Internasional St Petersburg (SPIEF) 2025 ketimbang forum G7, bukanlah keberpihakan. Dia menilai, sikap itu merupakan bentuk komitmen atas undangan yang telah diterima lebih dahulu.
“Ini adalah cerminan konsistensi etika diplomasi kita. Indonesia menghormati semua mitra, baik dari barat maupun timur, selama kerja sama dilakukan atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan,” ujar Amelia, dikutip Minggu (22/6/2025).
Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR ini meyakini, kehadiran Presiden di SPIEF dapat membuka peluang kerja sama konkret di bidang energi, pangan dan pertahanan.
“Diplomasi inklusif ini diharapkan memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” kata Amelia.
Amelia juga menilai pidato Prabowo membawa pesan kuat tentang perdamaian dan diplomasi. Apalagi situasi geopolitik global saat ini tengah memanas, ditandai dengan perang Israel dengan Iran.
“Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Indonesia hadir sebagai suara penyejuk yang mendorong kerja sama, bukan konfrontasi. Perdamaian, bukan permusuhan,” ujar Amelia.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan alasan memilih hadir di St Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025 di Rusia, dibanding Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 2025 di Alberta, Kanada. Alasan itu diungkapkan Prabowo di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dia mengaku tidak hadir di KTT G7 bukan karena tak menghormati forum tersebut. Namun, dia sebelumnya sudah berkomitmen untuk menghadiri SPIEF.
“Saya tidak menghadiri forum G7 karena sudah berkomitmen hadir di forum ini, bukannya karena kurang menghormati G7,” kata Prabowo dalam pidatonya di SPIEF 2025, Jumat (20/6/2025).
Dia menjelaskan, kehadirannya di SPIEF sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Indonesia tetap konsisten berada di jalur non-blok dan menjunjung tinggi prinsip persahabatan antarbangsa.
“Indonesia memilih jalur non-blok dan ingin menjadi teman bagi semua negara. Seribu teman, masih kurang, satu musuh sudah terlalu banyak. Hanya melalui persahabatan dan kolaborasi, kita bisa mencapai kemakmuran,” ujarnya.