Warga kampung kota di utara Jakarta mencari pantai, sekaligus keadilan

21 Jun 2025 | Penulis: jessicapost

Warga kampung kota di utara Jakarta mencari pantai, sekaligus keadilan

Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan, lengkap dengan deretan gedung pencakar langit yang menjulang, hamparan ruas jalan yang membelah berbagai sisi, serta kemacetan yang mengular tanpa putus. Tapi, fakta bahwa Jakarta terletak pula di pesisir seperti hampir absen dalam setiap perbincangan.

Berjalan ke utara, menjauhi segala yang "besar" dan "megah," kita akan menjumpai denyut nadi kehidupan lain yang tersusun atas bongkahan kontainer, tempat pelelangan ikan yang tersebar di banyak titik, atau kapal-kapal nelayan yang tengah bersandar menanti waktu untuk kembali diberangkatkan.

Kehidupan di utara Jakarta berdetak sebagaimana khas pesisir pada umumnya; ia tercipta dan terbentuk dengan laut menjadi tumpuan sekaligus pijakan.

Dan bicara tentang pesisir, maka terdapat elemen 'penting' yang tidak bisa dilepaskan dari kehadirannya: pantai.

Pada awal 1960-an, musisi dan komposer asal Brasil, Carlos Antonio Jobim, membuat balada yang kelak meledak di dunia, diberi judul "The Girl from Ipanema."

Lagu ini, di waktu bersamaan, menandai mekarnya ragam musik bossa nova—atau samba jazz—sampai setidaknya 1970-an.

Karya-karya dari Astrud Gilberto, Gal Costa, Elis Regina, Toquinho, hingga Joao Gilberto lalu memenuhi rak di toko musik lintas negara dan dirayakan sebagai fenomena kultural yang jejaknya masih terasa sampai sekarang.

Pembacaan mengenai bossa nova tak hanya sebatas dari aspek musik; bossa nova, kala itu, dipandang menjadi cerminan Brasil yang memasuki era baru. Brasil yang modern. Brasil yang masyarakatnya bahagia sebab ekonominya maju.

Para musisi bossa nova kemudian menangkap situasi tersebut dan menuangkannya ke dalam komposisi lagu. Satu hal yang bisa dikata melekat di setiap alunan bossa nova ialah penyertaan unsur pantai.

Ipanema di lagu "The Girl from Ipanema" merujuk pada pantai bernama Ipanema yang membentang di Rio de Janeiro, kota utama di Brasil.

Pantai ini berada di balik bangunan tinggi di Rio de Janeiro, rutin disambangi masyarakat di sana lantaran begitu mudah diakses, serta merepresentasikan kegembiraan kolektif.

Orang-orang Brasil, pendek kata, berpesta di pantai dengan bossa nova sebagai latar pendamping yang menyempurnakan.

Warga kota di Brasil mempunyai kedekatan yang erat bersama pantai, dan Ipanema bukan satu-satunya ruang yang tersedia. Tak jauh dari Ipanema, ada Copacabana.

Sama seperti Ipanema, Copacabana tak bersekat sehingga siapa saja dapat memasukinya secara cuma-cuma untuk menikmati gulungan air laut atau menepi sejenak dari hiruk pikuk perkotaan yang berjarak sejengkal.

Rio de Janeiro kurang lebih mirip dengan Jakarta; kota besar di wilayah pesisir. Pertanyaannya: apakah Jakarta mempunyai pantai bagi masyarakatnya?

Mendambakan pantai, merekam kembali nostalgia

Ingatan Munarto seketika mundur ke dekade 1970-an saat BBC News Indonesia bertanya soal pantai di Jakarta.

Kala itu, Munarto, yang lahir dan besar di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, masih anak-anak. Usianya, kira-kira, baru sekitar 10 tahun. Ada momen yang selalu ia nantikan.

Setiap Idulfitri tiba, Munarto dan keluarga besarnya akan bepergian ke pantai di dekat pelabuhan Tanjung Priok. Di sana, mereka menghabiskan waktu untuk bercengkerama maupun bermain air.

Saat hari berganti malam, letupan antusiasme Munarto kecil masih terasa lantaran ia disuguhi 'hiburan' lainnya berupa pemandangan kapal-kapal besar yang keluar dan masuk pelabuhan.

Dari pantai tempat Munarto dan keluarga besarnya berdiri, kapal-kapal besar itu memancarkan kerlip cahaya. Munarto senang melihatnya.

"Kalau Lebaran, itu pantai ramai sekali dengan orang. Masyarakat mencari hiburannya di pantai. Rombongan yang datang," terang lelaki kelahiran 1966 ini kepada BBC News Indonesia.

Pantai tidak sekadar jadi jujukan Munarto tatkala hari raya menjemput. Pada kesempatan di luar itu, Munarto dan teman-temannya kerap menuju ke pantai guna berlarian, berkejaran, serta berbagi senda gurau.

Semua dinikmati Munarto, serta warga secara keseluruhan, tanpa perlu merogoh kocek.

Pintu pantai di utara Jakarta, dengan kata lain, terbuka lebar untuk mereka yang memerlukan asupan untuk liburan—kapanpun itu.

"Orang Jakarta masih bisa datang ke pantai [secara] gratis," Munarto menegaskan.

Waktu berjalan. Munarto beranjak dewasa. Ia tidak lagi tinggal di dekat Tanjung Priok dan pindah ke Muara Angke—sama-sama di Jakarta Utara.

Roda hidup, ternyata, turut berdampak terhadap pantai yang dulu Munarto kecil dan keluarga kerap jadikan sandaran untuk berkumpul bersama.


Komentar