PACMANNEWS.COM
Andi, bukan nama sebenarnya masih ingat saat tawaran kerja ke luar negeri itu datang, ia buru-buru menyambutnya. Harapan mengubah ekonomi keluarganya dan mimpinya bekerja di luar negeri seolah terkabulkan. Segera, ia menyetujui untuk menerima tawaran itu dari sahabatnya.
“Tawarannya bekerja di Thailand sebagai customer service,” kata Andi kepada Narasi beberapa waktu lalu.
“Saya tidak mengeluarkan biaya, semua tiket mereka yang membelikan,” katanya.
Dua hari setelahnya, Andi terbang ke Thailand melalui bandara Soekarno Hatta di Jakarta berbekal tiket yang diberikan dari seseorang yang dihubungkan lewat daring oleh temannya. Sesampainya di Bandara Swarabumi, ia dijemput oleh seseorang dan membawanya untuk menginap di Bangkok.
“Saya lupa nama hotelnya, tapi itu di Bangkok,” katanya.
Mulanya, ia tak curiga karena ia telah sampai di Bangkok, tapi esok harinya ia justru dibawa terbang lagi dari Bangkok ke Mae Sot, sebuah daerah yang berbatasan antara Thailand dan Myanmar. Di sana, ia dijemput menggunakan mobil oleh orang berkebangsaan China dan dipindahkan ke mobil lain saat transit di sebuah pelataran hotel.
Andi mengingat, Hotel itu bernama 02 di sebuah distrik di Mae Sot. Lokasi tepatnya, berada di 200, Mae Pa, Mae Sot District, Tak 63110, Thailand. Dari sana, ia kemudian dipindahkan ke mobil lain untuk melanjutkan perjalanan. Ia sempat dibawa ke sebuah tempat dekat perbatasan Thailand dan Myanmar dan menunggu hampir setengah jam di sana.
Andi menduga, ia dibawa ke tempat oknum imigrasi Thailand di perbatasan karena sebelumnya ia diminta memberikan identitas di tempat itu. Setelahnya, Andi dibawa menyeberangi sungai Moei. Ia baru tersadar dan merasa banyak kejanggalan karena ia telah dibawa jauh dari Bangkok.
Apalagi saat tiba di Myanmar ia dijemput tentara bersenjata di perbatasan dan dibawa menggunakan mobil penjelajah bersama dengan warga negara asal China yang telah lebih dulu dan ia temui di Mae Sot.
“Saya mulai merasa janggal karena lokasinya kerja yang dijanjikan itu ada di Bangkok, tapi saya malah dibawa jauh dari sana sampai perbatasan,” ujarnya.
Abdul, warga Bekasi, Jawa Barat masih ingat saat tawaran bekerja di Thailand itu datang menghampirinya saat pandemi Covid-19 pada 2022. Ia bersama dengan sekitar sebelas orang lainnya dikumpulkan di sebuah rumah makan kawasan Bekasi sebelum ia terbang ke Thailand bersama sepasang suami-istri.
Tak ada kecurigaan, singkatnya Abdul berangkat ke Thailand dengan sebelas orang lainnya dari Indonesia. Ia berangkat dari Bandara Soekarno Hatta dini hari dan kemudian masuk melalui Thailand melalui Bandara Don Mueang. Di Thailand, ia bertemu dengan sosok berkewarganegaraan Singapura yang menyambutnya dan mengajak makan di Bangkok.
Di sana ia di brief bahwa akan bekerja di perusahaan digital untuk kemudian pada esok harinya dibawa menggunakan sebuah minibus ke Mae Sot, sebuah distrik di Thailand yang berbatasan dengan Myanmar. Mulanya Abdul tak curiga, tapi kemudian ia baru merasa adanya kejanggalan saat menyeberangi sungai Moei dan dijemput tentara dengan senjata laras panjang.
“Kami dijemput tentara bersenjata dan langsung dibawa menggunakan mobil,” kata Abdul.
Ia kemudian dibawa ke sebuah tempat yang belakangan ia ketahui di sana adalah tempat penipuan daring. Di lokasi itu pula ia bertemu Robiin, mantan anggota DPRD Indramayu, Jawa Barat yang juga ikut terjebak dalam perdagangan manusia untuk penipuan online di perbatasan Myanmar-Thailand.
Kami bertemu Robiin, usai ia dibebaskan dari markas penipuan online di Myanmar beberapa hari setelah ia tiba di Indonesia. Kepada Narasi, Robiin bercerita bahwa mulanya ia terjebak perdagangan manusia di Myanmar karena iklan lowongan di Facebook. Robiin saat itu berada di Singapura untuk bekerja, tawaran mencari pendapatan dengan bekerja di Thailand lewat facebook kemudian ia ambil.
Ia terbang ke Thailand dengan ongkos tiket yang ia beli sendiri untuk menemui pemberi kerja yang ia kenal lewat facebook. Di Thailand Robiin berhubungan dengan si penipu melalui telepon yang mengantarkannya hingga perbatasan Thailand dan Myanmar melalui sungai Moei. Robiin baru menyadari ia menjadi korban setelah berada di Myanmar ketika ia dijemput tentara bersenjata yang membawanya ke pusat penipuan di perbatasan.
“Saya waktu itu di Singapura, karena tawaran bekerja dengan gaji menggiurkan, saya tertarik dan terbang ke Thailand,” kata Robiin.
Dipaksa Menipu & Hari-hari Penuh Kekerasan
Andi masih mengingat, saat sampai di markas penipuan itu, ia lantas menemui manajer perekrutan berkewarganegaraan Malaysia. Ia sempat meminta untuk dipulangkan, tapi upaya itu sia-sia. Yang ia ingat, manajer asal Malaysia itu berkata: “Saya juga korban, maka turuti saja pekerjaan dan tetap bertahan di sini. Karena kalau kamu melarikan diri, nyawa taruhannya,” kata Andi mengingat perkataan si manajer perekrutan saat ia sampai di markas penipuan.
Andi menggambarkan bagaimana tempat penipuan itu tertutup dan sulit untuk melarikan diri. Ia bilang, bagian depan dijaga oleh tentara bersenjata sementara di sekelilingnya dipasang kawat berduri dan CCTV. Tempat penipuan itu mirip kompleks perkantoran, dikelilingi pagar beton dan setiap beberapa meter berdiri pos penjagaan yang dijaga pasukan bersenjata.
Di tempat penipuan itu, segala fasilitas lengkap dibangun, mulai dari supermarket, hotel hingga pusat hiburan. Hanya ada satu pintu di gerbang utama untuk masuk ke kawasan itu. Sementara di sekelilingnya berdiri bangunan empat lantai yang digunakan untuk menampung para korban dan gedung lainnya digunakan sebagai kantor operasional penipuan.
Belakangan Andi baru mengetahui bahwa ia berada di KK Park, sebuah kawasan penipuan daring yang kemudian terkenal di pemberitaaan. Lokasi itu ia baru ketahui setelah bebas dan berhasil kabur dari KK Park, karena sebelumnya ia sempat mengirim pesan dan mengirim lokasi kepada keluarganya di Indonesia.
“Saya sempat mengirim lokasi ke keluarga,” kata Andi.
Jika Andi bekerja dipaksa bekerja sebagai penipu, lain hal ceritanya dengan Abdul. Mulanya Abdul juga diminta mencari korban yang bisa ditipu dengan membuat akun, tapi belakangan ia ditarget untuk mengumpulkan sebanyak mungkin nomor telepon korban untuk kemudian diserahkan ke tim lain yang bertugas untuk menghubungi dan menjerat lewat daring.
Sama seperti Andi, di tempat Abdul, kekerasan dan perlakuan tak manusiawi juga terjadi jika mereka tak bekerja sesuai dan memenuhi target. Abdul misalnya pernah mengalami kekerasan berupa pukulan karena tak mencapai target mendapatkan ratusan nomor setiap hari.
“Saya juga pernah mengalami, tapi memang tidak seperti yang beredar di video,” kata Abdul.
“Kekerasan yang paling parah itu dipukuli dan di setrum,” ujarnya.
Tekanan, ancaman dan kekerasan memang membuat para korban tak bisa berbuat banyak selain bekerja menjadi penipu daring. Mereka bekerja dibawah tekanan dan jam kerja yang tak manusiawi. Apalagi kebanyakan dari mereka tak menerima imbalan.
Robiin, bercerita bahwa selama ia bekerja menjadi penipu di markas penipuan di Myanmar, ia tak pernah sekalipun menerima imbalan dan bahkan harus bekerja lebih dari 12 jam sehari untuk mencari calon nomor korban melalui akun TikTok. Jika target mendapatkan nomornya tak berhasil, maka selain jam kerja ada juga kekerasan yang ia alami.
Para korban memang mengalami hari-hari paling traumatis selama hidup mereka di markas penipuan. Pagi bagun untuk bekerja menjadi penipu dan pulang menjelang dini hari, dan begitu hari-hari mereka di markas penipuan.
Kata Abdul, untuk lepas dari lingkaran setan kekerasan dan bisa keluar dari markas penipuan, uang tebusan adalah jawabannya.
Para pelaku biasanya meminta uang tebusan puluhan ribu dollar ke pihak keluarga agar mereka bisa dibebaskan dari markas penipuan. Tapi hal itu tak pernah menjamin bahwa mereka benar-benar akan dibebaskan.
“Kalau mau bebas maka harus memberikan tebusan,” kata Robiin.
Sebuah analisis dari Chainanlysis menemukan bahwa pola para pelaku geng kriminal yang beroperasi di markas penipuan di Myanmar khususnya KK Park dikendalikan oleh geng kriminal asal Tiongkok. KK Park sendiri menampung sekitar kurang lebih 2.000 ribu orang pekerja penipuan yang juga jadi korban perdagangan orang untuk bekerja melakukan penipuan.