TEHERAN, IRAN – Iran menegaskan kesiapannya untuk melancarkan serangan terhadap AS jika kepentingan nasionalnya terancam. Pernyataan ini memicu kekhawatiran dunia akan eskalasi konflik di tengah situasi geopolitik yang kian rumit.
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Hossein Salami, menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dari ancaman eksternal.
“Kami tidak akan ragu-ragu untuk menghancurkan musuh kami, termasuk Amerika Serikat, jika mereka mengancam kedaulatan kami,” ujar Salami dalam pidato di Teheran, seperti dikutip dari iNews, Kamis (19/6/2025).
Latar Belakang Ketegangan
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya gesekan antara kedua negara. Sanksi ekonomi AS yang terus diperketat terhadap Iran, ditambah tuduhan Washington atas program nuklir Teheran, menjadi pemicu utama. Iran, di sisi lain, menuduh AS berupaya melemahkan stabilitas regional melalui dukungan terhadap Israel dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.
Menurut analis politik internasional, Dr. Reza Hamedani, ancaman ini mencerminkan strategi Iran untuk menunjukkan kekuatan di tengah tekanan global.
“Iran ingin mengirim pesan bahwa mereka tidak bisa diintimidasi, terutama setelah negosiasi nuklir yang buntu,” kata Hamedani kepada media.
Respons Dunia dan Dampaknya
Pernyataan Salami memicu reaksi beragam di panggung internasional. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah konflik terbuka. “Dialog adalah satu-satunya jalan untuk meredakan ketegangan,” ujar Guterres dalam konferensi pers di New York.
Sementara itu, pasar global mulai merespons dengan gejolak. Harga minyak mentah melonjak 3% dalam hitungan jam setelah ancaman tersebut, mencerminkan kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Bursa saham di Asia dan Eropa juga mencatat penurunan signifikan.
Iran diketahui telah meningkatkan latihan militer di Teluk Persia, termasuk uji coba rudal balistik jarak jauh. AS, di sisi lain, memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengirim kapal perang tambahan ke wilayah tersebut. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa kedua negara tengah berada di ambang konfrontasi.
Meski begitu, beberapa pihak masih berharap diplomasi dapat meredakan situasi. Uni Eropa berencana mengadakan pertemuan darurat untuk membahas krisis ini, dengan harapan membuka kembali jalur negosiasi.
Pernyataan Keras Iran
Dalam pidatonya, Salami juga menyinggung kesiapan Iran menghadapi segala skenario. “Kami telah mempersiapkan diri untuk perang total jika diperlukan. Amerika harus berpikir ulang sebelum bertindak,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi sorotan utama media global, mengingat IRGC dikenal sebagai kekuatan militer utama Iran.
Konflik verbal antara Iran dan AS ini menambah ketidakpastian di panggung dunia. Dengan kedua pihak menunjukkan sikap keras, risiko eskalasi militer semakin nyata. Dunia kini menanti langkah diplomasi untuk mencegah krisis yang lebih besar.