Ide Hunian Vertikal Warga Sipil di Tengah Polemik Rumah Subsidi

21 Jun 2025 | Penulis: tariupdate

Ide Hunian Vertikal Warga Sipil di Tengah Polemik Rumah Subsidi

Di tengah kesulitan anak muda memiliki rumah, Tama (39) berencana menempati rumah flat, yang masih dalam proses perencanaan pembangunan. Konsep rumah flat yang akan dia tinggali ini dinilai menjanjikan sebuah hunian yang terjangkau.

Rumah flat ini ibarat rumah susun (rusun), alias terdiri atas sejumlah orang yang tinggal di satu gedung yang sama. Patungan dana yang diperoleh dari setiap penghuni kemudian jadi modal untuk pengembangan dan perawatannya.

“Jadi pada dasarnya kita ngumpulin orangnya dulu, kita ngumpulin uangnya dulu, baru kita bangun bersama sesuai dengan konsep koperasi. Jadi ada kepemilikan bersama, bangunan itu sendiri, hunian itu sendiri,” kisah Tama di ujung telepon pada Tirto, Senin (16/6/2025).

Berbeda dari rusun atau rumah-rumah pada umumnya yang sudah jadi baru ditinggali, konsep rumah flat ini justru mengumpulkan calon penghuni terlebih dahulu, baru nanti akan dibangun bersama dengan skema koperasi.

“Jadi orang-orang yang minat pun sudah tahu keadaan sekitarnya, seperti apa site-nya. Seperti apa orang-orang lain yang akan jadi tetangganya juga gitu. Jadi saling kenal sebelum kita tinggal di satu gedung gitu,” lanjut laki-laki yang bekerja di industri media tersebut.

Dengan begitu, rumah flat ini tidak akan dibangun berdasarkan harga yang dijual oleh developer, melainkan sesuai dengan standar pembangunan atau konstruksi. Menyoal renovasi atau hal lainnya di masa mendatang, kata Tama, semua akan dilalui lewat proses musyawarah.

Rumah flat yang dimaksud Tama adalah rumah multi-family housing yang digagas oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Konsep ini berfokus pada bangunan dengan empat lantai, yang bertujuan untuk mendorong transisi penggunaan ruang secara vertikal, menambah stok hunian, dan mengurangi urban sprawl (ekspansi kota yang tidak terkendali).

Menurut RCUS, pilihan itu didasarkan pada berbagai pertimbangan, termasuk efisiensi penggunaan lahan, pengurangan biaya konstruksi, dan kemudahan implementasi di lingkungan dengan infrastruktur yang terbatas, seperti di Jakarta.

“Latar belakang (dibangun)-nya adalah karena harga rumah dan tanah makin naik, makin tidak terjangkau oleh mayoritas warga. Jadi ini bukan lagi masalah hanya kaum miskin atau masalah kampung kumuh tapi ini masalah sebagian besar rakyat Indonesia tidak mampu membeli rumah yang layak,” terang Pendiri dan Penasihat Senior RCUS, Marco Kusumawijaya, saat dihubungi jurnalis Tirto, Senin (16/6/2025).

Standar “layak” yang disinggung Marco merujuk pada kriteria Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana salah satu syarat pentingnya yaitu kelayakan lokasi. Sebab, pengertian kehidupan perkotaan yang layak itu artinya terhubung dengan fasilitas sosial, ekonomi, dan budaya perkotaan, sehingga bukan hanya asal tempat tertentu.

“Nah harga (rumah) sekarang itu sudah makin tidak terjangkau. Ada data-data keterjangkauan kan. Mengapa ya? Sebetulnya biasa terjadi di negara berkembang dimanapun, seperti juga negara-negara maju dulu mengalaminya. Karena perbedaan antara kebutuhan atau demand, dengan suplai itu besar sekali, sehingga orang cenderung menjadikan rumah itu sebagai bahan spekulasi, sebagai bahan investasi kan. Nah, pola-pola pemerintah sekarang itu memperkuat itu jadi makin tidak terjangkau karena trennya diteruskan gitu,” lanjut Marco.

Oleh karenanya rumah flat menawarkan skema koperasi, di mana menurut International Cooperative Alliance (ICA) tahun 1995, koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya bersama melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis.

“Kita bisa mencapai beban kepada anggota koperasi itu cuma separuh dari harga rata-rata di pasar bebas. Kan udah ada risetnya, harga meter persegi rata-rata di pasar bebas rumah di Jakarta itu sekitar 14,9, hampir 15 juta. Kita menghitung, kita akhirnya mencapai cuma 8 juta. Ya sederhana, karena kita kan tidak menambahkan margin keuntungan,” terang Marco.

Maka, sistem koperasi dalam hal rumah flat ini yakni setiap orang menyetor simpanan wajib masing-masing sebesar luas lantai yang akan dia tinggali. Prinsipnya, uang yang dikeluarkan merupakan biaya pembangunan dan sewa tanah, tanpa ada biaya keuntungan.

Rumah flat ala RCUS kini sudah dibangun di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan akan didirikan baru di daerah Matraman, Jakarta Timur dan Pengadegan, Jakarta Selatan.


Komentar