Demonstrasi di Turki Menentang Erdogan Makin Membesar, Apa Pemicunya?

21 Jun 2025 | Penulis: ayunewsroom

Demonstrasi di Turki Menentang Erdogan Makin Membesar, Apa Pemicunya?

PACMANNEWS.COM

Puluhan ribu warga Turkiye turun ke jalan, meneriakkan kemarahan atas penahanan Ekrem Imamoglu, Wali Kota Istanbul yang juga merupakan tokoh oposisi terkemuka. Unjuk rasa ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari satu dekade terakhir, mencerminkan eskalasi ketegangan politik di negeri itu.

Polisi Turkiye telah menahan 1.113 orang di seluruh negeri dalam lima hari protes, sementara Presiden Recep Tayyip Erdogan menyalahkan partai oposisi utama atas kerusuhan yang dipicu oleh penahanan rival politik utamanya.

 

Menteri Dalam Negeri Ali Yerlikaya mengonfirmasi jumlah total penangkapan pada hari Senin, setelah malam kelima dari gelombang protes anti-pemerintah terbesar yang terjadi dalam lebih dari satu dekade.

Mengapa Warga Turun ke Jalan?

Kemarahan massa dipicu oleh penahanan Ekrem Imamoglu pada Rabu, 19 Maret 2025. Imamoglu, yang digadang-gadang sebagai kandidat kuat oposisi dalam pemilihan presiden mendatang, ditangkap dengan tuduhan korupsi dan dugaan keterlibatan dengan kelompok politik yang dilarang Partai Pekerja Kurdistan (PKK), serta memimpin organisasi kriminal. Para pendukungnya menyebut tuduhan ini bermotif politik, bertujuan untuk menggagalkan pencalonannya dalam pemilu 2028.

Namun, bagi sebagian demonstran, aksi ini bukan hanya tentang Imamoglu. Isu yang mereka angkat lebih luas: kekhawatiran atas kondisi demokrasi, ekonomi, pendidikan, serta sistem layanan kesehatan di Turkiye.

 

Kronologi Protes

Protes bermula pada Rabu, hari di mana Imamoglu ditangkap. Ribuan orang berkumpul di Universitas Istanbul untuk menyatakan penolakan mereka terhadap penahanan sang wali kota. Sejak itu, gelombang unjuk rasa terus membesar, berpuncak pada aksi massal pada Sabtu malam yang menarik puluhan ribu orang.

Di berbagai titik di Istanbul, pengunjuk rasa membawa bendera dan spanduk, berusaha berarak menuju Taksim Square dari kantor pusat Kota Istanbul. Namun, upaya ini dihalangi oleh kepolisian yang menembakkan gas air mata dan menyemprotkan merica untuk membubarkan massa.

Demonstrasi yang dimulai di Istanbul setelah penahanan Imamoglu dengan cepat menyebar ke lebih dari 55 dari 81 provinsi di Turkiye. Para demonstran bentrok dengan polisi antihuru-hara yang menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.

Meskipun ada larangan berkumpul di jalanan di banyak kota, demonstrasi anti-pemerintah terus berlanjut hingga malam kelima pada hari Minggu, dengan bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan polisi.

 

Sebelum fajar pada hari Senin, polisi menangkap 10 jurnalis Turkiye di rumah mereka, menurut kelompok hak asasi Media and Law Studies Association.

 

Pada hari Senin, sekelompok pemuda menggelar aksi protes di dekat Pelabuhan Besiktas di tepi Bosphorus, Istanbul, sebelum aksi utama yang dijadwalkan berlangsung di depan balai kota pada pukul 17.30 GMT.

Siapa Ekrem Imamoglu dan Apa yang Terjadi Padanya?

Ekrem Imamoglu adalah Wali Kota Istanbul dari Partai Rakyat Republik (CHP). Sejak menjabat pada 2019 dan terpilih kembali pada 2024, ia dianggap sebagai figur yang dapat menantang dominasi politik Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Pada 19 Maret, Imamoglu bersama lebih dari 100 orang lainnya ditangkap oleh kepolisian Turkiye. Sehari sebelumnya, gelarnya sebagai sarjana administrasi bisnis dan magister manajemen sumber daya manusia dicabut oleh Universitas Istanbul dengan alasan adanya dugaan ketidakwajaran dalam transfer akademiknya dari sebuah universitas swasta di Siprus Utara. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk mendiskualifikasi Imamoglu dari pencalonan presiden.

Ekrem Imamoglu, telah dipilih sebagai kandidat dari Partai Rakyat Republik (CHP) untuk pemilihan Presiden Turki yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2028. Imamoglu, dianggap sebagai penantang utama Presiden Recep Tayyip Erdogan. Penangkapannya telah memicu protes luas yang berlangsung selama beberapa hari, terutama di kota-kota besar seperti Istanbul, Ankara, dan Izmir.

Berikut adalah ringkasan perjalanan politik Imamoglu.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

  • Lahir pada 4 Juni 1970 di Trabzon, Turki bagian timur laut.
  • Memperoleh gelar sarjana dalam administrasi bisnis dan gelar magister dalam manajemen sumber daya manusia dari Universitas Istanbul.

Terpilih sebagai Wali Kota Istanbul

  • Tahun 2008, bergabung dengan Partai Rakyat Republik (CHP), salah satu partai politik utama di Turki.
  • Menjabat sebagai Wali Kota distrik Beylikduzu di Istanbul dari 2014 hingga 2019.
  • Pada 2019, terpilih sebagai Wali Kota Istanbul setelah mengalahkan kandidat dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party). Hasil pemilu awalnya dibatalkan, tetapi ia kembali menang dalam pemilihan ulang.
  • Pada 2022, dijatuhi hukuman dua tahun tujuh bulan penjara dan dilarang berpolitik atas tuduhan menghina Dewan Pemilihan Umum selama pembatalan hasil pemilu wali kota Istanbul tahun 2019. Ia mengajukan banding, dan larangan politiknya masih menunggu keputusan akhir.

Pembatalan Gelar Universitas

  • Pada 18 Maret 2025, Universitas Istanbul membatalkan gelar sarjana Imamoglu, dengan alasan ketidaksesuaian dengan peraturan Dewan Pendidikan Tinggi.
  • Pembatalan ini mengancam kelayakannya untuk mencalonkan diri sebagai presiden, karena menurut hukum Turki, seorang kandidat presiden harus memiliki setidaknya gelar pendidikan tinggi.

Penangkapan dan Protes

  • Pada 19 Maret 2025, Imamoglu ditangkap dan didakwa atas tuduhan korupsi, membantu PKK, serta memimpin organisasi kriminal.
  • Penangkapannya memicu gelombang protes besar-besaran yang masih berlangsung hingga kini.

Kandidat Presiden dari CHP

  • Pada 24 Maret 2025, Imamoglu secara resmi diumumkan sebagai kandidat presiden dari CHP.
  • Pemilihan presiden berikutnya dijadwalkan pada tahun 2028, meskipun kemungkinan pemilu dipercepat tetap terbuka.

Tuduhan yang Dihadapinya

Jaksa di Istanbul menuduh Imamoglu melakukan korupsi, penyuapan, serta keterlibatan dengan organisasi kriminal yang melakukan manipulasi tender dan penggelapan dana publik. Anadolu Agency (AA), kantor berita Turkiye, juga melaporkan bahwa Imamoglu diduga memiliki kaitan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Turkiye, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Namun, pada Minggu, pengadilan memutuskan bahwa Imamoglu akan ditahan tanpa jaminan terkait tuduhan korupsi, sementara dakwaan terkait "terorisme" digugurkan. Seorang hakim menyatakan, "Meskipun ada dugaan kuat mengenai keterlibatan dengan organisasi bersenjata, karena Imamoglu sudah ditahan untuk kejahatan keuangan, penahanan lebih lanjut tidak dianggap perlu pada tahap ini."

Dengan demikian, pemerintah tidak bisa menunjuk wali kota pengganti yang ditunjuk langsung oleh negara, dan pengganti Imamoglu harus berasal dari Dewan Kota Istanbul.

Reaksi Imamoglu dan Erdogan

Menanggapi penangkapannya, Imamoglu menolak semua tuduhan. "Hari ini, selama interogasi, saya dan rekan-rekan saya menghadapi tuduhan dan fitnah yang tidak terbayangkan," ujarnya dalam pembelaannya yang dikutip Reuters. "Saya dengan tegas menolak semua tuduhan ini."

Sementara itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa sistem hukum Turkiye harus dibiarkan bekerja tanpa gangguan. Ia mengecam demonstrasi dan menyebutnya sebagai "teror jalanan." Dalam pidatonya pada Jumat, Erdogan menegaskan, "Kami tidak akan menerima gangguan terhadap ketertiban umum. Menunjuk jalanan sebagai tempat untuk membela pencurian, penjarahan, pelanggaran hukum, dan penipuan adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab."

Erdogan juga menyinggung bahwa partai oposisi sedang dimanipulasi oleh segelintir elit yang haus kekuasaan. "Fakta bahwa segelintir orang serakah yang melekat pada CHP sedang memanipulasi partai berusia seabad ini juga membuat rakyat kita yang memilih CHP merasa kecewa," katanya, merujuk pada skandal İSKİ yang mengguncang politik Turkiye pada 1990-an.

Erdogan mengecam Partai Rakyat Republik (CHP) yang merupakan oposisi utama, dengan menuduh mereka telah memulai “gerakan kekerasan”.Ia menambahkan bahwa “pertunjukan” ini pada akhirnya akan berakhir dan bahwa mereka akan merasa malu atas “kejahatan” yang mereka lakukan terhadap negara.

Melaporkan dari Istanbul, jurnalis Al Jazeera, Aksel Zaimovic, mengatakan bahwa gelombang penangkapan ini tidak menyurutkan tekad oposisi. “Mereka mengatakan tidak akan mundur. Bahkan, mereka justru mendorong lebih banyak orang untuk bergabung dalam aksi yang dijadwalkan beberapa jam ke depan.”

“Mereka juga menyerukan boikot terhadap media yang mereka anggap pro-pemerintah, serta perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemerintah,” tambahnya.

Seberapa Besar Demonstrasi Ini?

Oposisi menyebutkan bahwa lebih dari 300.000 orang terlibat dalam aksi protes di seluruh negeri, meski banyak yang terhalang oleh penutupan jalan dan jembatan. Unjuk rasa ini disebut sebagai yang terbesar sejak demonstrasi Gezi Park pada 2013.

Bentrok dengan aparat keamanan pun tak terhindarkan. Di Istanbul, polisi menggunakan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan massa, sementara di ibu kota Ankara, pasukan keamanan menggunakan meriam air dan gas air mata. Menteri Dalam Negeri Turkiye, Ali Yerlikaya, mengungkapkan bahwa sebanyak 323 orang telah ditangkap pasca-aksi protes Sabtu malam."Tidak akan ada toleransi bagi mereka yang ingin mengganggu ketertiban masyarakat, mengancam kedamaian dan keamanan rakyat, serta menyulut kekacauan dan provokasi," tegasnya.

Apakah Pemilu Akan Dipercepat?

Jadwal pemilu presiden Turkiye berikutnya adalah pada 2028. Namun, situasi politik yang memanas memunculkan spekulasi bahwa pemilu dapat dipercepat, seiring meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan oposisi.

Bagi para pendukung Imamoglu, perjuangan belum berakhir. Di berbagai kota, mereka terus menyuarakan perlawanan, menuntut keadilan bagi pemimpin mereka dan bagi demokrasi Turkiye yang mereka yakini tengah berada di persimpangan jalan.


Komentar