Saham emiten migas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), mencatatkan reli berhari-hari di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.18 WIB, saham ENRG meningkat 3,93 persen ke level Rp370 per unit. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp252,2 miliar dan volume perdagangan 688,8 juta saham.
Dengan ini, saham ENRG menguat 3 hari beruntun. Sementara, sejak 10 Juni, saham emiten milik Grup Bakrie tersebut berhasil menghijau 8 kali dan hanya merah sekali.
Alhasil, dalam sepekan saham ENRG melonjak 34,31 persen dan dalam sebulan terakhir terbang 70,37 persen.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai lonjakan harga ENRG tak lepas dari sentimen konflik geopolitik yang tengah berlangsung di Timur Tengah dan aksi korporasi perseroan.
"Kita ketahui kekhawatiran investor global saat ini terjadi dari perang yg terjadi di Timur Tengah," ujar Michael, Jumat (20/6/2025).
Menurutnya, konflik tersebut telah mendorong harga minyak Brent mendekati titik baliknya setelah tiga tahun berada dalam tren penurunan.
"Hal ini mengakibatkan minyak Brent yg sudah 3 tahun downtrend, menguji titik reversalnya di 75–77," imbuh Michael.
Ia menambahkan, apabila perang terus berlanjut, apalagi jika muncul ancaman terhadap penutupan Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia—maka harga minyak berpotensi terus melonjak.
"Hal ini dikenal dengan supply cut. Saham-saham yg bergerak di bidang energi dan gas pun mengalami kontraksi searah," kata Michael.
ENRG, yang berfokus pada sektor hulu migas, disebutnya mendapat keuntungan langsung dari kenaikan harga minyak dan gas global.
“Dan ENRG, sebagai saham yg bergerak di bidang migas hulu, mendapat benefit langsung dari kenaikan Harga minyak global dan gas,” katanya. “Hal ini bisa dilihat juga dari saham minyak lainnya seperti MEDC.”
Selain faktor eksternal, Michael menjelaskan, rencana aksi korporasi juga menjadi katalis tambahan bagi saham ini.
Secara teknikal, saham ENRG disebut telah menunjukkan sinyal positif. “ENRG berhasil melewati triple bottom weekly di angka 300,” ujarnya.
“Posisi ini membuat ENRG berpotensi menuju titik tertinggi yg disentuh pada 2022 lalu, yaitu 400,” demikia Michael menutup analisisnya.