Pandangan 2 Guru Besar Indonesia Soal Konflik Iran-Israel

20 Jun 2025 | Penulis: gilang.news

Pandangan 2 Guru Besar Indonesia Soal Konflik Iran-Israel

PACMANNEWS.COM, Jakarta - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana berpendapat sebaiknya masyarakat Indonesia mulai menyadari dampak konflik antara Iran dan Israel, yang juga melibatkan AS, terhadap perekonomian Indonesia. “Itu (konflik Iran, Israel, AS) akan berdampak pada berbagai barang-barang yang kita impor,” kata Hikmahanto kepada Antara, Kamis.

Menurutnya, jika barang-barang yang diimpor Indonesia dari negara-negara lain terpengaruh konflik Iran, Israel dan AS, di mana nantinya akan terjadi pelambatan ekonomi di Indonesia. “Belum lagi kalau misalnya perang meluas, ini juga akan mengganggu rantai pasok berbagai negara,” ujar Hikmahanto, menekankan bahwa hal-hal tersebut harus diwaspadai..

 

Hikmahanto pun berharap agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi “penonton” dalam konflik Iran, Israel, dan AS, melainkan mulai dapat berpartisipasi dengan mengirim pesan perdamaian.

Pendapat Teuku Rezasyah 
Profesor Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah beranggapan bahwa saat ini sangat sulit untuk membuat konsensus di kalangan negara-negara Kelompok 7 (G7) terkait konflik Iran-Israel. "Saat ini negara-negara G7 sangat sulit membuat konsensus di antara mereka. Terlebih lagi, ketergantungan mereka atas Amerika Serikat mulai berkurang," kata Reza kepada Antara pada Kamis.

G7 adalah kelompok negara-negara maju yang terdiri dari Amerika Serikat, Prancis, Kanada, Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang.

Menurut Reza, sulit dalam rekonstruksi Israel dan pembagian peran dalam menyudutkan Iran termasuk faktor yang dapat menghalangi tercapainya konsensus G7.

 

Reza menjelaskan bahwa negara G7 memberikan dukungan dalam bentuk apapun kepada Israel, di antaranya pembenaran atas apapun yang Israel lakukan dan dipraktekkan secara konsisten di berbagai forum internasional, termasuk PBB. "Suara mereka umumnya bulat, dan selalu sejalan dengan kebijakan apapun yang Israel lakukan," kata Reza.

Lebih lanjut Reza mengatakan negara G7 seringkali berseberangan dengan mayoritas negara di dunia, tepatnya di Majelis Umum PBB. "Namun G7 ini kompak, kuat secara teknologi dan mliter, kaya dan banyak melakukan investasi di berbagai belahan bumi serta berwibawa karena menguasai sumber-sumber keuangan dan informasi di dunia," katanya menambahkan.

Ia menambahkan bahwa kendati Israel terbukti melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan berperilaku kejam atas rakyat Palestina, sikap G7 pada umumnya bersimpati pada Israel. Mereka beralasan bahwa Israel berhak mempertahankan dirinya sebagai sebuah negara berdaulat, katanya.

Sebelumnya pada Senin, 16 Juni, para pemimpin negara-negara G7 yang bertemu di Kanada menegaskan kembali komitmennya terhadap perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. "Dalam konteks ini, kami menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri. Kami menegaskan kembali dukungan kami terhadap keamanan Israel", kata para pemimpin Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.


Komentar