Pahami Faktor Rehabilitasi Pasca Stroke

20 Jun 2025 | Penulis: rezaindomedia

Pahami Faktor Rehabilitasi Pasca Stroke

PACMANNEWS.COM, Jakarta - Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Bethsaida Hospital Gading Serpong Raymond Posuma mengatakan rehabilitasi pasca stroke merupakan fase penting yang harus dijalankan untuk mendukung pemulihan pasien. “Stroke memang dapat mempengaruhi berbagai fungsi motorik dan kognitif, namun dengan terapi yang tepat, pasien memiliki peluang besar untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, berbicara, bahkan makan secara mandiri," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 15 Juni 2025. 

Ia menambahkan intervensi rehabilitatif yang terstruktur dan berkelanjutan dapat membantu pasien meminimalkan risiko disabilitas dan meningkatkan kualitas hidup mereka. "Rehabilitasi tidak hanya berfokus pada pemulihan gerak, tapi juga melatih ulang fungsi otak serta membangun kembali kemandirian dan kepercayaan diri pasien,” kata Raymond.


Ia mengatakan rehabilitasi pasca stroke tidak hanya sebatas latihan fisik. Rehabilitasi pasca stroke juga bertujuan untuk mengaktifkan kembali sistem saraf yang sempat terganggu. Pendekatan yang komprehensif, mulai dari fisioterapi, stimulasi kognitif, hingga dukungan psikologis, sangat penting untuk dilakukan secara bersamaan. 


Selain itu, saat ini semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa intervensi sosial, atau yang dikenal dengan istilah social prescription intervention, juga merupakan bagian penting dalam proses rehabilitasi stroke. Social prescription intervention adalah upaya untuk menghubungkan pasien dengan berbagai aktivitas sosial, komunitas, atau kelompok pendukung di lingkungan mereka. Pendekatan ini terbukti dapat memberikan dampak positif yang signifikan, seperti meningkatkan semangat, memperluas jejaring sosial, dan membantu pasien merasa lebih diterima serta didukung selama masa pemulihan. Dengan mengintegrasikan komponen sosial ini ke dalam program rehabilitasi, pasien tidak hanya mendapatkan manfaat secara fisik dan mental, tetapi juga secara emosional dan sosial, sehingga proses pemulihan menjadi lebih menyeluruh dan bermakna.

Sebelumnya, Bethsaida Healthcare merilis Stroke Assisted Living Center (SALC) di Moriah Pavillion Bethsaida Hospital Gading Serpong, pusat layanan rehabilitasi yang terintegrasi langsung dengan hospital. Program-program seperti daycare sosial, sesi interaktif seperti melukis dan merangkai bunga, hingga sesi komunitas dan rekreasi, menjadikan SALC sebagai tempat di mana pasien kembali merasa berdaya, bukan sebagai 'pasien' semata.


Data menunjukkan bahwa 8 dari 10 penyintas stroke berisiko kehilangan kemandirian jika tidak menjalani rehabilitasi terstruktur. Di Stroke Assisted Living Center (SALC) pasien stroke bisa membantu meningkatkan semangat dan kemandirian hidupnya.

SALC menawarkan layanan intensif mulai dari fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, hingga dukungan psikososial dan pelatihan kemandirian. Program dirancang khusus sesuai kondisi dan kemampuan setiap pasien. Keunggulan SALC juga terletak pada akses langsung ke fasilitas medis Bethsaida Hospital, memastikan keamanan dan ketenangan bagi pasien dan keluarga. “Kami ingin setiap pasien stroke tidak hanya pulih, tetapi kembali menjalani hidup dengan penuh makna. Kami merancang paket program dengan fleksibilitas tinggi, mulai dari layanan residensial, day care, hingga program dengan pendamping agar pasien dan keluarga dapat memilih sesuai kebutuhan dan kenyamanan,” ujar Iwan A. Setiawan, Direktur Sales & Marketing Bethsaida Hospital Gading Serpong. 

CEO Bethsaida Healthcare Hananiel P. Wijaya menjelaskan pemulihan pasca-stroke tidak berhenti di hospital. Banyak pasien kehilangan kemandirian karena kurangnya dukungan yang berkelanjutan. "Dengan SALC, kami memberikan rumah kedua yang bukan hanya aman, tetapi juga mendorong pasien untuk bangkit, belajar kembali, dan hidup dengan kualitas yang layak,” kata Hananiel.

 


Komentar