PACMANNEWS.COM
Gagasan perestroika dan glasnost Mikhail Gorbachev dipuji karena membawa Uni Soviet ke arah yang lebih terbuka, namun ia juga dicerca sebagai rencana yang naif dan pengkhianat sosialisme.
Mikhail Gorbachev menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa (30/8) malam di Rumah Sakit Klinik Pusat, Moskow. Presiden terakhir Uni Soviet yang berperan dalam menutup tirai Perang Dingin dengan sedikit pertumpahan darah ini wafat pada usia 91 tahun.
Kantor berita lokal Interfac, TASS, dan Ria Novosti mengutip keterangan rumah sakit yang menyatakan, "Gorbachev meninggal malam ini akibat sakit serius dan berkepanjangan."
Jenazah Gorbachev akan dikebumikan di samping makam istrinya, Raisa Gorbachev, di Pemakaman Novodevichy, Moskow.
Presiden pertama dan satu-satunya yang terpilih lewat pemilu Dewan Deputi Rakyat ini meninggal di tengah invasi militer Rusia ke Ukraina dan saat dunia bersiap menghadapi babak baru Perang Dingin antara Tiongkok-Amerika Serikat.
Sepeninggalnya, strategi diplomasi Gorbachev akan menjadi warisan yang selalu dikenang.
Perestroika dan Glasnost: Warisan Gorbachev
Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen mengenang Gorbachev sebagai pahlawan yang membawa perubahan. "Seorang pemimpin yang dipercaya dan dihormati", tulisnya di Twitter, Selasa (30/8/2022).
Sejak Maret 1984, Gorbachev memang selalu mendengungkan istilah perestroika (restrukturisasi) yang berarti serangkaian reformasi ekonomi dan politik. Kebijakan ini mengarah pada desentralisasi pengambilan keputusan ekonomi agar lebih efisien.
Beberapa paket kebijakan yang disarankan olehnya waktu itu bertujuan memperbaiki produktivitas negara, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, juga meningkatkan investasi modal.
Tujuannya agar Uni Soviet tidak terperosok menjadi negara kelas dua dan membawa ekonomi setara dengan Barat. Konsekuensinya, Uni Soviet menerapkan sistem pasar semibebas.
Untuk mendorong reformasi perestroika, Gorbachev juga meluncurkan kebijakan glasnost (keterbukaan) yang menjadi tumpuan penting dari upaya reformasinya.
Kebijakan ini memungkinkan kebebasan berekspresi publik dan pers. Uni Soviet pun mulai membuka sensor terhadap saluran media Inggris dan Amerika Serikat serta melonggarkan pengawasan terhadap jurnalis.
Glasnost juga menjadi dasar keterbukaan sistem politik, yang dipercayai oleh Gorbachev dapat ditempuh dengan demokratisasi. Keterbukaan menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah kelambanan pejabat politik dan birokrasi serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses politik.
Kedua kebijakan ini menimbulkan perdebatan besar yang pernah tercatat dalam sejarah Rusia.
“Para penggagas perestroika menghadapi berbagai tuduhan dan celaan,” tulis Gorbachev dalam esainya.
Sebagian besar tuduhan itu mengatakan bahwa penggagas Perestroika tidak memiliki rencana yang jelas, naif, dan pengkhianat sosialisme.
Dalam praktiknya perestroika dan glasnost memang tak selalu berjalan mulus. Kegagalan ini misalnya memantik sejumlah negara untuk melepaskan diri sebagai bagian Uni Soviet.
Runtuhnya Tembok Berlin secara simbolik pada November 1989 menjadi salah satu momentum penting yang menandai kegagalan kebijakan Gorbacev sekaligus mendorong demokratisasi di Eropa secara bertahap.
"Era Gorbachev adalah era perestroika, era harapan, era masuknya kita ke dunia bebas rudal ... tapi ada satu kesalahan perhitungan: kita tidak mengenal negara kita dengan baik," kata Vladimir Shevchenko, mantan kepala kantor protokol Gorbachev ketika dia menjadi pemimpin Soviet.
Keterbukaan Terhadap Eropa dan Amerika Serikat
Di samping melancarkan keterbukaan informasi, Gorbachev juga mengkampanyekan pelucutan senjata nuklir. Kampanye ini dipicu oleh kebocoran reaktor nuklir Chernobyl pada 1986.
Pada 1986 ia duduk bersama Presiden AS Ronald Reagan di Islandia untuk sama-sama mengakhiri persaingan senjata nuklir. Kesepakatan ini membuat bayang-bayang horor kompetisi pengembangan senjata pemusnah massal sejak awal Perang Dingin itu mereda.
Saat terjadi serangkaian protes prodemokrasi di negara-negara blok Soviet di Eropa Timur pada 1989, Gorbachev menahan diri untuk menundukkan gerakan tersebut dengan kekuatan militer. Meski bukan berarti tidak ada tekanan balik dari Uni Soviet.
Kebangkitan rasa nasionalisme masyarakat Rusia yang terpantik oleh kebijakan glasnost dan perestroika menjadi daya juang beberapa pemberontakan yang bertujuan memisahkan diri dari Uni Soviet.
Sikap Gorbachev yang mulai condong ke arah sosial demokratis ini membuat negara-negara yang sebelumnya menjadi oposisi utama Uni Soviet seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia mulai bersimpati.
Di samping memupuk hubungan baik dengan Eropa, dia juga memperbaiki hubungan dengan Cina yang sempat retak akibat konflik Republik Rakyat Cina-Uni Soviet pada masa pemerintahan Nikita Kruschev.
Penarikan pasukan militer, serangkaian misi diplomatik ke Eropa, dan dukungan terhadap reunifikasi Jerman serta kerja sama yang dijalin dengan AS tentang pengurangan senjata mengakhiri julukan negara "Tirai Besi" yang melekat terhadap Uni Soviet semasa Perang Dingin.
Misi diplomatiknya ke luar negeri adalah untuk meyakinkan bahwa Uni Soviet tidak lagi dapat disikapi sebagai ancaman internasional.
Berbeda dengan para pemimpin sebelumnya, Gorbachev menolak Doktrin Brezhnev yang membuat Uni Soviet memiliki hak untuk campur tangan secara militer di negara-negara Marxis-Leninis lainnya jika pemerintah mereka terancam.
Salah satu penyebab kemerosotan ekonomi Uni Soviet menurut Gorbachev ialah pengeluaran anggaran pertahanan negara yang sangat besar.
Gorbachev meyakini bahwa pasar merupakan satu-satunya institusi yang dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan rakyat, mendistribusikan kemakmuran secara adil, menjamin hak-hak sosial, mengokohkan kebebasan dan demokrasi.
Misi diplomatiknya juga merupakan upaya untuk mendapatkan bantuan ekonomi dari Eropa dan Amerika Serikat. Atas upayanya menciptakan demokrasi ini Gorbachev mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian pada 1990.
Uni Soviet juga mengalami perubahan sistem politik yang drastis akibat Gorbachev. Pasal konstitusi yang mengesahkan partai tunggal sebagai satu-satunya organisasi politik dihapuskan.
Bersamaan dengan pengunduran diri Gorbachev, Uni Soviet sebagai negara sosialis pertama di dunia pun hilang hanya dalam semalam.
Yang Mempengaruhi Pemikiran Gorbachev
Pengaruh paling penting bagi Gorbachev adalah kedua orang tuanya, terutama ayahnya dan kakek dari pihak ibu, yang mencintai dan mendorongnya alih-alih mendominasi. William Taubman penulis biografinya, Gorbachev: His Life and Times (2017), menampilkan sosoknya begitu heroik tapi juga tragis.
Gorbachev memecahkan sistem Uni Soviet yang tidak adaptif, tapi belum berhasil menciptakan sarana untuk menciptakan demokrasi liberal sebagai gantinya.
Sejak ia melepaskan jabatannya sebagai presiden, ekonomi dan politik Rusia terus-menerus tidak pernah stabil, selalu ada ketidakteraturan sosial sekaligus selalu ada harapan.