PRESIDEN Donald Trump sengaja membiarkan langkah selanjutnya Amerika Serikat terhadap Iran diselimuti ambiguitas, menolak untuk mengklarifikasi apakah ia bermaksud untuk mengizinkan serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump berulang kali menekankan ketidakpastian proses pengambilan keputusannya: "Saya mungkin melakukannya. Saya mungkin tidak melakukannya. Tidak seorang pun tahu apa yang akan saya lakukan", seperti dikutip The New Arab.
Sikap ini memunculkan pertanyaan: apa sebenarnya yang diinginkan Trump? Atau lebih tepatnya, apa yang ada di kepala Trump saat ini? Pernyataan Trump bahwa “Tidak seorang pun tahu apa yang akan saya lakukan” justru memancing pertanyaan selanjutnya, “Apakah Trump sebenarnya tahu apa yang harus ia lakukan?”
Berikut ini adalah perubahan posisi Trump sejak ia kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari, seperti dirangkum Al Jazeera:
4 Februari: “Tekanan Maksimun” terhadap Iran
Dua pekan setelah ia dilantik, Gedung Putih mengumumkan bahwa Trump telah menandatangani memorandum presiden untuk memberikan tekanan maksimum pada Teheran demi keamanan nasional. Memorandum tersebut bertujuan untuk "mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, dan melawan pengaruh jahat Iran di luar negeri".
Saat itu, Trump menegaskan bahwa ia lebih suka memilih solusi diplomatik melalui perundingan dibandingkan ancaman kekerasan. Memorandum Trump tidak merinci apa yang dimaksud dengan “tekanan maksimum”. Namun ia mengatakan bahwa ia "bimbang" dan "tidak senang" menandatanganinya dan menambahkan bahwa ia berharap "tidak perlu menggunakan tindakan yang besar sama sekali".
15 Mei: AS dan Iran Hampir Mencapai Kesepakatan Nuklir
Selama lawatannya ke Teluk bulan lalu, sikap diplomatik Trump belum berubah. Ia masih memilih "negosiasi yang sangat serius dengan Iran untuk perdamaian jangka panjang". Ia menambahkan bahwa Washington dan Teheran telah "semacam" menyetujui persyaratan kesepakatan nuklir.
Namun, ia mulai mengisyaratkan tindakan selanjutnya. “Kami hampir mencapai kesepakatan. Ada dua langkah melakukannya: Ada langkah yang sangat, sangat baik, dan ada langkah yang keras, tetapi saya tidak ingin melakukannya dengan cara kedua," katanya.
17 Mei: Peringatan terhadap Iran atas serangan Houthi
Dua hari setelah itu, Trump mulai melancarkan serangan kata-kata terhadap Iran di media social untuk serangan yang dilakukan Houthi. "Jangan biarkan siapa pun tertipu! Ratusan serangan yang dilakukan oleh Houthi, mafia dan penjahat jahat yang bermarkas di Yaman, yang dibenci oleh rakyat Yaman, semuanya berasal dari, dan diciptakan oleh, IRAN," kata Trump.
28 Mei: Peringatan terhadap Netanyahu untuk Serang Iran
Pada 28 Mei, Trump tampaknya telah membalikkan sikapnya lagi, namun, ketika dia mengatakan bahwa dia telah mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menunda serangan apa pun terhadap Iran karena "tidak pantas untuk dilakukan saat ini karena kita sudah sangat dekat dengan solusi [diplomatik] [pada status nuklir Iran]".
13 Juni: AS 'Tidak Terlibat' dalam Serangan terhadap Iran
Setelah Israel menyerang Iran pada hari Jumat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan: "Malam ini, Israel mengambil tindakan sepihak terhadap Iran. Kami tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran dan prioritas utama kami adalah melindungi pasukan Amerika di wilayah tersebut."
Rubio menambahkan: "Biar saya perjelas: Iran tidak boleh menargetkan kepentingan atau personel AS."
17 Juni: Seruan Agar Iran Menyerah
Pada Selasa, retorika anti-Iran Trump kembali muncul. Dia memposting di platform Truth Social miliknya yang mengacu pada Iran: "MENYERAH TANPA SYARAT!"
Dalam unggahan lainnya, dia menulis tentang Ayatollah Ali Khamenei: "Kami tahu persis di mana 'Pemimpin Tertinggi' bersembunyi. Dia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana – Kami tidak akan membunuhnya, setidaknya untuk saat ini. Tapi kami tidak ingin ada rudal yang ditembakkan ke arah warga sipil, atau tentara Amerika. Kesabaran kami mulai menipis. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!"
Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa ia menginginkan akhir yang nyata dari isu apakah Iran mengembangkan senjata nuklir, yang dibantah oleh Teheran, dan bukan hanya gencatan senjata antara Israel dan Iran.
Gedung Putih merilis sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa Trump "tidak pernah goyah dalam pendiriannya bahwa Iran tidak dapat dibiarkan memiliki senjata nuklir". Pernyataan tersebut mencantumkan beberapa kejadian dari tahun 2011 hingga Selasa ketika Trump mengatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
18 Juni: Sikap Trump Ambigu Lagi
Pada Rabu, Trump mengatakan kepada wartawan yang bertanya tentang apakah AS dapat terlibat dalam konflik Iran-Israel: "Saya mungkin melakukannya. Saya mungkin tidak melakukannya. Maksud saya, tidak ada yang tahu apa yang akan saya lakukan."
Apakah Iran Mengembangkan Senjata Nuklir?
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya sepenuhnya damai dan untuk tujuan sipil. Mereka menyatakan tetap mematuhi dekrit keagamaan yang dikeluarkan oleh Khamenei pada awal 2000-an, yang melarang produksi senjata dengan mengatakan bahwa hal itu dilarang dalam Islam.
Khamenei menyatakan tidak akan patuh dengan seruang Trump untuk menyerah. "Setiap intervensi militer AS tidak diragukan lagi akan disertai dengan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki," kata Khamenei.
Iran telah mencapai pengayaan uranium sebesar 60 persen di fasilitas-fasilitas nuklirnya, mendekati pengayaan 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir.
Namun, pengawas nuklir PBB juga mengatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti produksi senjata nuklir Iran. "Kami tidak memiliki bukti adanya upaya sistematis untuk beralih ke senjata nuklir," kata Rafael Grossi, direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Bahkan Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard, pada Maret, bersaksi di hadapan Kongres bahwa Iran memiliki uranium tingkat senjata dalam jumlah yang "belum pernah terjadi sebelumnya" tetapi tampaknya tidak secara aktif mengembangkan senjata nuklir.
Demi membenarkan tindakan Israel, Trump mengatakan kepada wartawan pada Selasa, "Saya tidak peduli apa yang dikatakannya. Saya yakin mereka hampir memilikinya."
Apakah Jalur Diplomatik Masih Terbuka?
Sikap Trump menandai pergeseran dari upaya diplomatik sebelumnya yang bertujuan untuk membatasi program nuklir Iran, dengan putaran perundingan baru-baru ini dibatalkan setelah pecahnya permusuhan antara Israel dan Iran. Ia juga telah menolak tawaran dari Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menengahi konflik tersebut, dan meminta Putin untuk fokus menyelesaikan perang Rusia sendiri di Ukraina.
Seiring berkembangnya situasi, penolakan Trump untuk mengklarifikasi niat AS tampaknya diperhitungkan untuk membuat sekutu dan musuh menebak-nebak, mempertahankan tekanan pada Teheran sambil tetap membuka kemungkinan negosiasi atau tindakan militer.