Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja solid dengan penguatan 10 persen dalam tiga bulan terakhir, didorong oleh meredanya ketegangan dagang AS-Tiongkok dan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen.
Di tengah euforia tersebut, pasar kini menghadapi risiko pembalikan arah seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan volatilitas global.
Pasar tampaknya telah mengantisipasi dampak dari tarif impor yang diberlakukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump, sehingga mendorong investor asing kembali masuk ke pasar Indonesia.
Net buy asing pada Mei 2025 tercatat sebesar Rp5,9 triliun di pasar saham, sementara arus masuk ke obligasi tetap kuat di angka Rp29,5 triliun.
Namun memasuki Juni, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp2,9 triliun, menyusul lonjakan harga minyak mentah Brent di atas USD83 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, setelah serangan Israel terhadap aset militer Iran.
Berdasarkan riset Samuel Sekuritas, Selasa (17/6/2025) situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, yang dapat mendorong inflasi AS lebih tinggi dan memicu penundaan pelonggaran suku bunga oleh The Fed, atau bahkan berbalik menjadi hawkish.
Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi meningkat.
Apalagi, posisi IHSG kini berada dekat dengan skenario optimistis (bull case) di level 7.200, membuat ruang penguatan relatif terbatas.
Saham komoditas dan konsumer jadi incaran
Dengan meningkatnya ketidakpastian global, analis merekomendasikan strategi rotasi sektor menuju saham-saham penghasil dolar dan defensif.
Sektor yang berkaitan dengan komoditas, seperti MEDC dan AKRA (terkait minyak), serta ANTM dan BRMS (logam mulia), dinilai akan diuntungkan sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Selain itu, sektor konsumsi juga tetap menjadi pilihan utama, seiring peluncuran paket stimulus pemerintah senilai Rp24,4 triliun, yang merupakan yang terbesar sejak pandemi.
Paket ini mencakup bantuan sosial, subsidi gaji, dan potongan biaya transportasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan daya beli yang tetap kuat, emiten konsumer seperti ICBP dan AMRT diperkirakan akan memperoleh manfaat langsung.
Sebaliknya, sektor perbankan dinilai berpotensi underperform, menyusul data laba bersih industri per April 2025 yang hanya tumbuh 0,5 persen YoY.
Margin bunga bersih yang menipis, biaya operasional yang tinggi terutama di BMRI dan BBRI serta ketatnya likuiditas menjadi tantangan utama bagi perbankan. Meskipun pemangkasan suku bunga dapat memberikan sedikit ruang bernapas, prospek revaluasi sektor ini masih terbatas.