ITB: Tanggul Laut Raksasa Tidak Harus Sepanjang Pantura Jawa

20 Jun 2025 | Penulis: keishapost

ITB: Tanggul Laut Raksasa Tidak Harus Sepanjang Pantura Jawa

Bandung - Kajian Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan rekannya menghasilkan sejumlah kesimpulan soal rencana pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall oleh pemerintah di pantai utara Pulau Jawa.

Kepala Laboratorium Geodesi ITB Heri Andreas, dalam kesimpulannya, mengatakan upaya ideal mengatasi banjir pesisir alias rob dengan mengendalikan eksploitasi air tanah belum sepenuhnya dapat dilakukan. “Karena masih banyak masyarakat, industri, niaga, dan komponen lainnya yang melakukan eksploitasi air tanah akibat kurangnya suplai dari sumber air baku lainnya,” ujarnya kepada Tempo, Senin, 16 Juni 2025.

Penyebab suplai itu bisa kurang karena banyak sumber air, seperti air permukaan dan air tanah dangkal yang tercemar, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai air baku. Beberapa kota di daerah pantai utara atau pantura bahkan masih mengandalkan air tanah hingga 80-90 persen dari kebutuhan total air baku.

Kesimpulan kedua, pembuatan tanggul diperlukan di beberapa lokasi pantura yang terlanda rob. Idealnya, menurut Heri, tanggul yang akan dibangun lebih mengarah ke laut supaya tidak terdampak efek penurunan tanah. Dengan cara seperti itu juga bisa membuat semacam kolam retensi dari volume air yang datang dari hulu serta difungsikan sebagai suplai air baku sehingga dapat mengurangi atau bahkan menggantikan eksploitasi air tanah.

Tanggul juga harus dilengkapi dengan pompa untuk mengalirkan air di kolam retensi yang berlebih ke laut. Tim kajian juga menyarankan agar bentuk tanggul tidak hanya tembok menjulang di tengah laut, melainkan dikonsep Livable Dyke. “Artinya tanggul yang dapat dihuni serta digunakan untuk aktivitas lain,” kata Heri.

Di atas tanggul yang besar bisa dibangun hunian, tempat niaga, atau industri dan pariwisata yang dilengkapi jalan raya hingga rel kerata api dan bandara. Konsep itu akan menjawab juga kebutuhan ruang yang semakin sempit di pantura serta memberikan peluang ekonomi baru.

Kesimpulan yang ketiga terkait dengan dampak dan biaya pembuatan. Tanggul raksasa tidak harus dibangun sepanjang pantura Jawa. Menurut Heri, di beberapa tempat lebih efektif direlokasi daripada dibangun tanggul. “Giant sea wall pastinya bukan untuk sepanjang pantura,” katanya.

Beberapa lokasi yang memerlukan pembangunan tanggul itu, seperti Jakarta, Cirebon, Brebes, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Pertimbangannya dengan memperhatikan potensi kerugian yang sangat besar dan jumlah penduduk yang terdampak.

Adapun pilihan relokasi seperti di Muara Gembong, pesisir Karawang, dan Pondok Bali karena dinilai lebih efektif dan efisien, mengingat potensi kerugian tidak sebesar di tempat lain. “Termasuk biaya relokasi akan lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya pembuatan tanggul,” ujar Heri.

Sementara cara alternatif mengatasi rob di Tangerang, Pemalang, Kendal, dan Gresik, dengan meninggikan infrastruktur pesisir. Adapun di Serang, Eretan Kulon, Demak, Pasuruan dan Probolingo dapat dipilih upaya kombinasi antara pembuatan tanggul dan relokasi.

Dari beberapa kesimpulan itu, tim kajian menilai tanggul raksasa menjadi solusi prioritas karena masalah banjir pesisir yang semakin mengkhawatirkan. Rencana tanggul sesuai urgensi mitigasi, kebutuhan ruang, sumber air, termasuk kebutuhan pengembangan ekonomi. “Maka program giant sea wall ini tidak terlalu mengada-ada asal dananya tersedia tentunya,” ujar Heri.


Komentar