Cadangan devisa Indonesia pada bulan April anjlok sebesar US$4,6 miliar menjadi US$157,1 miliar, menjadikannya sebagai penurunan terbesar sejak Mei 2023. Ini terjadi usai Bank Indonesia (BI) meningkatkan intervensi pasar untuk mencegah nilai tukar rupiah semakin menurun bulan lalu.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan pembayaran utang luar negeri serta langkah stabilisasi rupiah juga menjadi salah satu faktor penurunan devisa tersebut.
Bahkan, cadangan devisa juga turun setelah pemerintah mulai mewajibkan para eksportir sumber daya alam untuk menyimpan semua pendapatan mereka dalam dolar AS setidaknya selama satu tahun mulai Maret 2025.
Tekanan intervensi yang mereda akhir-akhir ini membuat rupiah rebound 2,8% menjadi Rp16.543 setelah sebelumnya melewati level Rp17.000 per dolar AS. Setelah sebelumnya, rupiah sempat menjadi menjadi mata uang dengan performa terburuk di Asia.
Sebagai informasi, pemberlakuan tarif oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat investor mengalihkan uangnya ke aset yang lebih aman. Ini tak hanya membuat rupiah melemah, namun juga berimbas ke pasar secara luas, tak terkecuali saham dan crypto.