PACMANNEWS.COM - Seorang warga negara China bernama Baoxia Liu, juga dikenal sebagai Emily Liu, kini menjadi buron paling dicari oleh Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI).
Mengutip situs resmi FBI, Baoxia Liu alias Emily Liu masuk daftar hitam lantaran diduga sebagai aktor utama dalam jaringan penyelundupan teknologi pertahanan dari AS ke Iran.
Liu dituduh memasok teknologi pertahanan dari AS ke Iran, yang sebagian besar digunakan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam konflik bersenjata, termasuk dalam ketegangan militer yang meningkat dengan Israel.
Adapun barang-barang yang diselundupkan mencakup ribuan komponen elektronik yang dapat digunakan dalam produksi drone, rudal balistik, dan senjata militer lainnya
Dalam menjalankan misinya Baoxia Liu tak sendiri, FBI mengungkap bahwa Baoxia bekerja sama dengan tiga orang lainnya yakni Li Yongxin (Emma Lee), Yung Yiu Wa (Stephen Yung), dan Zhong Yanlai (Sydney Chung).
Keempat orang ini tergabung dalam jaringan perusahaan cangkang yang digunakan untuk membeli, memalsukan dokumen, dan menyalurkan komponen teknologi canggih dari AS ke Iran, melewati larangan ekspor dan sanksi internasional.
Modus Operasi: dari Pasar Gelap ke Gudang Senjata Iran
Menurut Departemen Kehakiman AS, sejak tahun 2007 hingga setidaknya 2020, Baoxia Liu menjalankan operasi penyelundupan lintas negara melalui perusahaan-perusahaan palsu berbasis di Hong Kong dan Tiongkok.
Teknologi dan komponen militer seperti sensor gyroskopik, microchip, prosesor komunikasi, dan modul navigasi dibeli dari vendor resmi Amerika, namun dengan tujuan akhir yang disembunyikan.
Barang-barang itu seharusnya dikirim ke “perusahaan teknologi sipil” di Asia.
Akan tetapi kenyataannya diarahkan ke perusahaan Iran yang terkait langsung dengan Kementerian Pertahanan dan IRGC.
“Liu dan rekan-rekannya diduga memalsukan identitas penerima akhir komponen, sehingga barang-barang tersebut seolah-olah dikirim ke China padahal ditujukan untuk Iran,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya.
Sesampainya di Iran, barang-barang ilegal ini diterima oleh entitas yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yakni Shiraz Electronics Industries (SEI) dan Rayan Roshd Afzar.
Adapun komponen ilegal yang diterima dua entitas tersebut disinyalir digunakan untuk membangun sistem rudal balistik jarak menengah, drone tempur (termasuk Shahed dan Mohajer) serta teknologi panduan presisi tinggi untuk artileri dan misil untuk memperkuat pertahanan Iran.
Penyelundupan ini memperlihatkan celah besar dalam pengawasan ekspor militer global dan bagaimana aktor negara seperti Iran memanfaatkan jaringan front company dan pasar gelap internasional untuk mendapatkan teknologi yang seharusnya dilindungi.
Iran, yang selama ini terkena sanksi ketat, terbukti tetap mampu memperkuat militernya teknologi terselubung seperti ini.
AS Gelar Sayembara, Beri Imbalan 15 Juta Dolar AS
Atas perbuatannya, Liu dan rekan-rekannya didakwa secara federal di pengadilan Distrik Columbia pada Januari 2024 atas sejumlah pelanggaran berat.
Termasuk konspirasi, penyelundupan barang dari AS, pelanggaran sanksi Iran, serta penyampaian informasi ekspor yang menyesatkan.
Untuk mempercepat proses penangkapan, Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan sayembara dengan imbalan menarik.
Yakni sebesar 15 juta dolar AS atau setara dengan Rp240 miliar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan Baoxia Liu, buron utama dalam jaringan penyelundupan komponen militer dari AS ke Iran.
Langkah ini diumumkan melalui situs resmi FBI dan Departemen Kehakiman AS sebagai bagian dari kampanye global untuk menghentikan suplai teknologi strategis ke musuh Amerika dan sekutunya, termasuk Iran.
“Siapa pun yang membantu menangkap Baoxia Liu akan diberi imbalan besar. Ini bukan sekadar penyelundupan ini soal keamanan dunia,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS.