Jakarta (PACMANNEWS.COM) - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyebutkan sebanyak delapan persen dari total penduduk usia produktif (16-30 tahun) di Indonesia masih menganggur.
"Mayoritas penduduk muda sudah bekerja, tetapi hampir 8 persen masih menganggur. Ini target kita, dan ini menunjukkan kita perlu bekerja sama (menemukan solusi)," kata Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum.
Potensi ekonomi digital jika dioptimalkan bisa mencapai sekitar 145 miliar dolar AS pada 2025. Dengan pesatnya kemajuan teknologi digital, potensi ekonomi digital bisa dimaksimalkan, imbuhnya di Jakarta, Kamis.
Namun, Sulistyaningrum menekankan pentingnya peningkatan keterampilan sumber daya manusia agar para pekerja tetap kompetitif di era ekonomi digital.
Karakter generasi muda juga perlu diperkuat agar tidak menjadi "generasi stroberi", sebutan bagi generasi muda yang rapuh dan kurang tangguh.
“Ini menjadi pengingat bahwa kita perlu membangun pemuda yang tangguh dan tidak mudah menyerah,” imbuhnya.
“Keterampilan harus dikembangkan untuk membekali kaum muda sebagai kontributor ekonomi. Pada saat yang sama, kita harus fokus pada pembangunan karakter," lanjutnya.
Selain itu, penggunaan internet di Indonesia terus meningkat, dengan penetrasi internet mencapai 73,7 persen dan mencatat pertumbuhan sebesar 16 persen, sehingga menghadirkan peluang yang signifikan bagi para pekerja muda.
Sulistyaningrum juga menyoroti kesenjangan gender dalam angkatan kerja Indonesia, dengan mencatat bahwa persentase perempuan yang tergolong NEET (Tidak dalam Pendidikan, Pekerjaan, atau Pelatihan) masih tinggi yaitu 24 persen.
Di antara faktor-faktor utama di balik rendahnya partisipasi perempuan dalam angkatan kerja adalah pelanggaran terus-menerus terhadap hak-hak buruh perempuan.
“Misalnya, upah yang tidak setara meskipun menduduki jabatan yang sama. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di pasar kerja,” ungkapnya.