Jakarta: Sinema Iran telah memproduksi banyak film yang mendapatkan pengakuan dari kancah internasional. Ternyata ada "bumbu rahasia" yang dimasukkan oleh para sineas Iran.
Amerika Serikat telah dikenal sebagai pemimpin industri film global dari segi komersial. Banyak film yang diproduksi di Hollywood bisa mendapatkan pendapatan yang luar biasa dari pemasarannya di seluruh dunia.
Namun ada juga negara-negara yang memiliki kontribusi besar dan keunikan masing-masing dalam menghasilkan karya-karya sinematiknya. Salah satunya adalah Iran. Meskipun tidak sebesar Hollywood dalam skala komersial atau produksi, pengaruh dan prestasi sinema Iran tidak bisa diremehkan.
Pengakuan Internasional yang Gemilang
Pada tahun 2018, jajak pendapat atau survei BBC Culture merilis daftar 100 film berbahasa asing terbaik. Menariknya, tiga karya sutradara asal Iran, Abbas Kiarostami, berhasil masuk ke dalam daftar tersebut, yaitu Close-Up (peringkat 39), Where is the Friend’s Home? (peringkat 94), dan Taste of Cherry (peringkat 97).
Selain itu, film A Separation (peringkat 21) karya sutradara Iran, Asghar Farhadi, juga turut menghiasi daftar bergengsi ini. Film yang dirilis pada 16 Maret 2011 ini menceritakan konflik keluarga kelas menengah di Iran yang berujung pada perceraian.
BBC melaporkan bahwa para kritikus mengenal banyak film mancanegara, termasuk Iran, melalui festival film internasional besar seperti Cannes, Venesia, Berlin, dan Locarno.
Memiliki Ciri Khas yang Kuat
Sinema Iran memiliki ciri khas yang kuat. Berbeda dari film negara lain yang mungkin fokus pada kekerasan atau sensasi, sinema Iran justru menyoroti hal-hal fundamental seperti pentingnya keluarga dan nilai-nilai keagamaan.
Sobat Medcom bisa melihatnya melalui film karya sutradara Asghar Farhadi, A Separation (2011) dan The Salesman (2016), yang berhasil menunjukkan bagaimana masyarakat Iran sangat menjunjung tinggi konsep-konsep tersebut.
A Separation berhasil mengharumkan nama Iran di ajang sinema internasional dengan gelar Film Berbahasa Asing Terbaik di Piala Oscar 2012. Film ini juga meraih Golden Bear di Festival Film Internasional Berlin 2011.
The Salesman pun berhasil dinobatkan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Piala Oscar 2017, serta penghargaan Best Screenplay dan Best Actor di Festival Film Cannes 2016.
Melawan Stereotip Media Barat
Meskipun sukses, media Barat seringkali menggambarkan Iran dengan citra perang atau konflik. Stereotip tentang Iran itu pun muncul dalam layar lebar, seperti film Argo (2012).
Walaupun telah meraih Film Terbaik di Piala Oscar 2013, film karya sutradara Ben Affleck itu dikritik karena menggambarkan orang Iran secara umum sebagai massa yang marah dan kasar selama krisis sandera kedutaan AS pada 1979-1981.
Penggambaran itu sangat berbanding terbalik dengan film-film Iran yang menampilkan kehidupan sehari-hari, emosi yang tulus, dan integritas karakter, yang jauh dari kesan konflik.
Perubahan Pasca-Revolusi Islam
Sebelum Revolusi Islam pada tahun 1978, industri film Iran cenderung didominasi oleh "film Persia" yang lebih mengandalkan daya jual seks. Hanya ada sedikit film yang mengangkat isu-isu sosial dan nilai-nilai kemanusiaan sebelum masa tersebut.
Perubahan drastis pun terjadi setelah Revolusi Islam di Iran. Sinema Iran berkembang menjadi hiburan yang mendidik dan seni perfilman yang berkualitas.
Adapun beberapa tokoh sineas Iran yang berperan sebagai pelopor perubahan tersebut, termasuk Abbas Kiarostami dan Majid Majidi. Mereka memulai tren baru dengan seringkali menampilkan anak-anak sebagai pemeran utama.
Sobat Medcom bisa melihat contohnya melalui film Where Is the Friend's Home? (1987) karya Abbas Kiarostami yang menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang secara tidak sengaja membawa buku catatan temannya dan bertekad untuk mengembalikannya agar temannya tidak dikeluarkan dari sekolah.
Ada juga film Children of Heaven (1997) yang menceritakan petualangan kakak dan adik karena sepasang sepatu yang hilang. Film ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Majid Majidi.
Martabat Wanita dalam Sinema Iran
Salah satu alasan penting kesuksesan film Iran adalah pandangan Islam yang menempatkan wanita sebagai pribadi yang mulia, bukan objek atau komoditas. Salah satunya dalam film The Circle (2000) karya sutradara Jafar Panahi yang secara langsung mengkritik pembatasan sosial yang dihadapi wanita di Iran.
Alhasil, film-film Iran mampu menghadirkan karakter wanita yang lebih kompleks, bermartabat, dan relevan dengan banyak orang.
Tentu saja hal tersebut sangat bertolak belakang dengan banyaknya film Hollywood yang sering mengobjektifikasi perempuan, seperti waralaba film American Pie di mana wanita hanya berfungsi sebagai objek hasrat seksual karakter pria atau bahan lelucon.
Tidak heran kalau banyak film Iran yang memiliki kualitas yang baik karena berani menyajikan cerita yang jujur dan tulus dengan nilai-nilai moral yang kuat. Apalagi didukung dengan pergeseran fokus di industri sinema Iran pasca-revolusi dan bakat para sutradara yang mampu menangkap esensi kemanusiaan dengan cara yang unik serta menghargai perempuan.