Consumer Price Index (CPI) di Amerika Serikat (AS) diproyeksikan naik ke 2,5% dari sebelumnya 2,3% menurut data Investing.com. Kenaikan ini terjadi seiring mulai berlakunya tarif resiprokal bagi sejumlah negara.
Peningkatan CPI ini menandakan inflasi mulai merespons kebijakan tarif, terutama pada kelompok barang konsumsi yang terdampak langsung. Ekonom memperkirakan tekanan inflasi dari kebijakan ini akan semakin terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, Bitcoin (BTC) terhadap inflasi yang lebih tinggi sering kali menjadi katalis positif. Menurut data historis, saat inflasi naik, minat terhadap aset lindung nilai seperti Bitcoin juga meningkat sebab investor mencari perlindungan dari penurunan daya beli mata uang fiat.
Sebagai informasi, jika CPI mengalami kenaikan, Bitcoin berpotensi mendapat dorongan permintaan sebagai aset pelindung nilai. Namun, jika inflasi dianggap terlalu tinggi dan memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga, volatilitas Bitcoin bisa lebih sulit diprediksi.
Namun, jika inflasi melambat di bawah ekspektasi, misalnya ke 2,3%-2,4%, tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga berkurang. Ini bisa jadi kabar baik bagi pasar crypto karena dapat mendorong likuiditas.
Sementara itu, penurunan inflasi juga bisa menandakan ekonomi melambat, hal tersebut menjadi sinyal waspada bagi investor terhadap volatilitas di berbagai sektor pasar.