Tether, perusahaan penerbit stablecoin USDT, mencatat total kepemilikan cadangan emas fisik hampir 80 ton. Sedangkan cadangan emas Indonesia berada di bawah Tether, yaitu 78,57 ton, melansir data Trading Economics.
Hal ini menempatkan Tether diantara puluhan negara, jika diartikan perusahaan crypto ini di tengah-tengah Australia, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Padahal, pendapatan Tether berasal dari keuntungan transaksi.
Adapun, pendapatan Tether sepanjang tahun lalu berhasil mencapai US$13 miliar. Sedangkan, pada kuartal pertama tahun ini Tether telah mendapat keuntungan US$1 miliar.
Dengan demikian, pendapatannya ini diarahkan pada instrumen-instrumen investasi, seperti obligasi Amerika Serikat (AS), emas, dan juga Bitcoin (BTC).